Skip to main content

Menerawang Lawang Sewu Semarang

Lawang Sewu dalam bahasa Indonesia bisa berarti ‘seribu lawang’, meski tak benar-benar pintu, dan jumlahnya tak benar-benar seribu. Mungkin karena dari kejauhan, deretan jendela lebar dan panjang ini nampak seolah seperti  pintu dan berjumlah amat banyak.

Menurut Wikipedia, awalnya Lawang Sewu merupakan kantor dari Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Meski tak paham bahasa Belanda, kata ‘spoorweg’ membuat saya mengerti mengapa orang Jawa meyebut kereta api dengan kata ‘sepur’. Mungkinkah ini merupakan salah satu kata serapan? Hmm...

Lawang Sewu ini dibangun pada tahun 1904 hingga tahun 1907. Letaknya ada di bundaran Tugu Muda Semarang, yang dahulunya disebut Wilhelminaplein. Setelah jaman kemerdekaan, bangunan kuno berlantai dua ini dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI), atau sekarang PT. Kereta Api Indonesia.

[caption id="attachment_1723" align="aligncenter" width="691"] Semarang di malam hari berlatar Lawang Sewu. (foto: Sandra Palupi)[/caption]

Sempat, gedung tua ini dipakai sebagai Kantor Kodam IV/Diponegoro dan Kantor Wilayah Kementrian Hubungan. Sedangkan pada masa perjuangan, gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri, yaitu ketika berlangsung peristiwa pertempuran lima hari di Semarang pada 14-19 Oktober 1945. Saksi pertempuran hebat antara pemuda AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Oleh karenanya Pemkot Semarang memasukkan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan bersejarah yang harus dilindungi.

Kini Lawang Sewu mulai terasa geliatnya dan banyak dikunjungi wisatawan, setelah cukup lama tak terurus. Selain itu, banyak program menarik diadakan di Lawang Sewu ini. Kelompok Komunitas Seni Rupa ORArT ORET pernah mengadakan kegiatan menggambar sketsa gedung Lawang Sewu beramai-ramai, pernah juga murid SMA Kolese Loyola dengan Gamelan Soepra-nya mengadakan konser musik. Gamelan Soepra yang konon diberi nama oleh Bung Karno ini mampu memecah aura mistis Lawang Sewu ini di malam hari. Pernah juga, salah satu program stasiun televisi yang menampilkan tema horor meliput tempat ini.

[caption id="attachment_1724" align="aligncenter" width="900"] Komunitas ORArt ORET beramai-ramai membuat sketsa tentang Lawang Sewu. (foto: Sandra Palupi)[/caption]

Memang, di balik gedung yang indah dan besar ini, terdapat cerita misteri yang cukup mengerikan. Seperti yang diberitakan situs wisataini.com, beberapa cerita misteri itu antara lain tentang noni Belanda korban perkosaan tentara Jepang. Usai diperkosa di Lawang Sewu, tentara Jepang langsung memenggal kepalanya. Ada juga bayangan di langit lantai tiga yang konon, ‘panggilan’ seorang juru kunci dapat membuat Anda melihat sosok bayangan yang menggantung di langit-langit. Tak semua pengunjung bisa mendapat kesempatan ‘istimewa’ tersebut. Dan masih banyak lagi,...cerita menyeramkan lain yang membuat saya sulit tidur.

Memang, di sana terdapat Ruang Penjara Berdiri, yang dahulunya digunakan sebagai tempat menampung para tahanan. Mereka dimasukkan ke tempat itu secara berdesak-desakan dan sangat tragis, bahkan tidak sedikit dari mereka yang meninggal dunia di tempat.  Demikian pula dengan penjara jongkok dengan fungsi yang sama.  Mungkin kisah-kisah sadis inilah yang membuat orang percaya mistik, muncul berbagai ‘penampakan’ yang menyeramkan.

Aduh, saya jadi seperti menakut-nakuti para traveler nih...

Singkirkan kengerian itu.  Banyak spot oke di Lawang Sewu untuk Anda bisa berfoto ria. Kereta Api kuno, gedung tua dengan deretan jendela besar, taman yang tertata rapi dan asri, dan lain sebagainya. Jika Anda penasaran, Anda bisa datang dengan membayar tiket masuk Rp.10.000,- untuk masuk ke ruang bawah tanah harga tiket Rp. 30.000,-.Jam operasional mulai pukul 07.00WIB hingga 21.00WIB.

Yah, menerawang Lawang Sewu Semarang, Anda akan semakin terbayang.

 

Comments

Popular posts from this blog

Maron Mangrove Edupark, Ekowisata yang Lagi Hits di Semarang

Maron Mangrove Edupark Semarang merupakan ekowisata hutan mangrove atau hutan bakau. Destinasi wisata hutan mangrove seluas lima hektare ini terletak di sekitar Pantai Maron Semarang, dengan akses masuk yang sama tak jauh dari Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Menurut Tempo.com , sejak dibuka sampai saat ini, sudah banyak pengunjung yang mendatangi destinasi wisata itu dengan kisaran 50-100 orang/hari, dan bisa 500 orang saat akhir pekan. "Para pengunjung akan mendapatkan pengalaman baru selain berwisata. Mereka bisa belajar bagaimana mengenal, menanam, dan merawat mangrove," kata pengelola Maroon Mangrove Edupark Semarang Rusmadi, Ketua Kelompok Mekartani Lindung. [caption id="attachment_2352" align="aligncenter" width="2304"] Menjelajahi hutan bakau di Maron Mangrove Edupark, Semarang. (foto: assets.kompasiana.com)[/caption] Ia menjelaskan tanaman mangrove sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai pelindung daratan dari ancaman abrasi...

5 Tips Agar Liburan Lebih Seru dan Menyenangkan

Pergi berlibur, tentunya harus membuat hati senang. Indonesia punya banyak tempat lucu. Tapi cara liburannya juga butuh kiat khusus agar menyenangkan. Jika liburan dengan perasaan tidak enak atau gundah akan merusak mood. Padahal kita liburan karena ingin menghilangkan stress dan kepenatan. Untuk itu, kita harus tahu cara liburan supaya seru dan penuh kegembiraan. Dari mulai teman traveling, tempat tujuan, dan segala kebutuhan traveling lainnya dapat menjadi faktor liburan yang menyenangkan. Kali ini, kami akan memberikan beberapa tips untuk liburan yang asyik: 1. Ajak teman yang humoris Tentunya, traveler butuh hiburan yang dapat mengisi di sela-sela kekosongan saat traveling. Contohnya, jika pesawat terkena delay atau bahkan hal-hal yang dapat merusak suasana hati. Mengajak teman yang humoris bisa menjadi solusinya. Mereka bisa menghibur traveler yang sedang bosan atau bahkan emosi sekalipun. Apalagi jika di tempat yang susah dengan jangkauan teknologi, yang paling manjur pasti berca...

Mencicipi Sajian Khas Kue Pia Nias

Selain dodol durian, Nias juga mempunyai makanan khas Kue Pia berjenis kering. Kue Pia Nias memang terbilang berukuran besar dibandingkan dengan Kue Pia lainnya di berbagai daerah. Kue Pia memang tergolong sebagai makanan kuliner asimilasi etnis Tiongkok di Indonesia. Dalam laman buahatiku.com, Kue Pia yang dikenal juga dengan Bakpia itu berasal dari dialek Hokkian dengan nama asli Tou Luk Pia yang artinya kue atau roti yang berisikan daging. Di Indonesia, Kue Pia divariasi dengan sangat beragam berisi kacang hijau, coklat, nanas, duren dan berbagai macam jenis. Kue Pia Nias memang mengundang selera. Ukurannya pun, memang terbilang besar dan berjenis kue pia kering, sehingga terasa crispy dan renyah gurihnya. Kue Pia yang paling terkenal di Nias adalah merk Tanda Setia. Unit usahanya ada di Gunung Sitoli, tepatnya di seputar kawasan jalan Patimura atau jalan Sirao. Biasanya Kue Pia itu berisi gula merah dan tausa. Rasanya memang terbilang manis, seperti umumnya kue pia lainnya. [capt...