Skip to main content

Gunung Kemukus dan Ritual Pesugihan yang Salah Kaprah

Gunung Kemukus menjadi kesempatan saya berwisata setelah menginap semalam di Kota Sragen untuk membaca puisi. Bersama rombongan penyair dari berbagai kota di Indonesia, panitia mengajak kami mengunjungi berbagai tempat, salah satunya (yang ini spontan hehe), berziarah ke makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus, Kabupaten Sragen, Desa Pendem, Sumberlawang, Jawa Tengah.

Sebenarnya Gunung Kemukus tidak menjadi salah satu agenda panitia waktu itu. Salah satu kawan penyair dari Madura yang mengusulkannya. Ia pernah mendengar legenda Gunung Kemukus dan penasaran atasnya. Saya jadi ikut penasaran, karena panitia nampak berdebat alot untuk menuju ke tempat itu sebelum akhirnya menyerah. Ada apa sih dengan tempat yang satu ini? Hmm....

[caption id="attachment_1787" align="aligncenter" width="640"] Pemandangan luas Gunung Kemukus di kejauhan. (Foto: www.dombei.info)[/caption]

Tiba di sana, saya belum melihat keistimewaan Gunung Kemukus dari pertama masuk, pada waktu itu nampak tak begitu terawat dan sangat sepi. Mungkin hanya rombongan kami yang paling banyak. Meski ada beberapa warung penduduk yang juga sepi.

Entah siapa yang memulai dulu, kami masuk ke sebuah makam yang konon amat keramat. Makam Pangeran Samudro yang terawat. Pengeran Samudro jatuh sakit dan meninggal di Gunung Kemukus di tengah perjalanan pulang dari belajar agama Islam di Gunung Lawu menuju ke Demak.

Nama Gunung Kemukus sendiri  berawal ketika masyarakat sering melihat kabut hitam seperti asap yang berbentuk kukusan, nampak menyelimuti makam Pangera Samudro.  Demikian seperti dilansir dari Tety Permata Sari lewat sang Juru Kunci, Pak Hasto.

Menurut pemilik warung, tempat ini selalu ramai dikunjungi pada malam Jumat, terutama Jumat Pon dan Jumat Kliwon menurut kalender Jawa. Tempat ini dipercaya dapat digunakan untuk mencari pesugihan dengan syarat melakukan ritual seks, yang paling baik dilakukan pada Kamis Pahing atau Kamis Wage.

[caption id="attachment_1789" align="aligncenter" width="663"] Gunung Kemukus dan ritual pesugihan yang salah kaprah, namun selalu ramai di waktu-waktu khusus. (foto: Image Source)[/caption]

Jika Anda ingin kaya dan permohonan terkabul, Anda harus bersedia melakukan hubungan badan dengan yang bukan suami atau istrinya sebanyak tujuh kali kunjung. Nampaknya memang dipercaya secara turun temurun, hingga demikianlah Gunung Kemukus menjadi ramai pengunjung.

Kepercayaan itu dikuatkan dengan isu-isu bahwa Pangeran Samudro wafat dibunuh setelah melakukan hubungan badan dengan Nyai Ontrowulan yang adalah selir ayahnya. Mengenai ini Pak Hasto menepisnya dengan menceritakan bahwa sesungguhnya Nyai Ontrowulan mencari-cari keberadaan makam Pangeran Samudro, anak tirinya. Sebagai penebus dosa, Nyai Ontrowulan selalu mengunjungi makamnya. Di sana bahkan terdapat sendang, tempat Nyai Ontrowulan menyucikan diri.

[caption id="attachment_1790" align="aligncenter" width="1600"] Sudut lain makam Pangeran Samudro yang mistis. (foto: Tety Permana Saputri)[/caption]

Arya Amelia lewat KapanLagi Plus memberitakan, menurut penelitian beberapa mahasiswa UGM, ditemukan fakta bahwa wacana ritual seks demi meraih kekayaan memang sengaja diciptakan oleh oknum tertentu, demi meningkatkan bisnis prostitusi.

Kini, Pemerintah mulai membenahi obyek wisata Gunung Kemukus yang sesungguhnya merupakan wisata religi ini. Selain melarang praktik prostitusi, juga melarang pemberian info yang bias kepada masyarakat mengenai pesugihan yang salah kaprah.

Nah, nampaknya Gunung Kemukus perlu menjadi destinasi wisata religi Anda, demi mendengar kebenaran cerita, tentang ritual pesugihan yang salah kaprah.

Comments

Popular posts from this blog

Maron Mangrove Edupark, Ekowisata yang Lagi Hits di Semarang

Maron Mangrove Edupark Semarang merupakan ekowisata hutan mangrove atau hutan bakau. Destinasi wisata hutan mangrove seluas lima hektare ini terletak di sekitar Pantai Maron Semarang, dengan akses masuk yang sama tak jauh dari Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Menurut Tempo.com , sejak dibuka sampai saat ini, sudah banyak pengunjung yang mendatangi destinasi wisata itu dengan kisaran 50-100 orang/hari, dan bisa 500 orang saat akhir pekan. "Para pengunjung akan mendapatkan pengalaman baru selain berwisata. Mereka bisa belajar bagaimana mengenal, menanam, dan merawat mangrove," kata pengelola Maroon Mangrove Edupark Semarang Rusmadi, Ketua Kelompok Mekartani Lindung. [caption id="attachment_2352" align="aligncenter" width="2304"] Menjelajahi hutan bakau di Maron Mangrove Edupark, Semarang. (foto: assets.kompasiana.com)[/caption] Ia menjelaskan tanaman mangrove sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai pelindung daratan dari ancaman abrasi...

5 Tips Agar Liburan Lebih Seru dan Menyenangkan

Pergi berlibur, tentunya harus membuat hati senang. Indonesia punya banyak tempat lucu. Tapi cara liburannya juga butuh kiat khusus agar menyenangkan. Jika liburan dengan perasaan tidak enak atau gundah akan merusak mood. Padahal kita liburan karena ingin menghilangkan stress dan kepenatan. Untuk itu, kita harus tahu cara liburan supaya seru dan penuh kegembiraan. Dari mulai teman traveling, tempat tujuan, dan segala kebutuhan traveling lainnya dapat menjadi faktor liburan yang menyenangkan. Kali ini, kami akan memberikan beberapa tips untuk liburan yang asyik: 1. Ajak teman yang humoris Tentunya, traveler butuh hiburan yang dapat mengisi di sela-sela kekosongan saat traveling. Contohnya, jika pesawat terkena delay atau bahkan hal-hal yang dapat merusak suasana hati. Mengajak teman yang humoris bisa menjadi solusinya. Mereka bisa menghibur traveler yang sedang bosan atau bahkan emosi sekalipun. Apalagi jika di tempat yang susah dengan jangkauan teknologi, yang paling manjur pasti berca...

Mencicipi Sajian Khas Kue Pia Nias

Selain dodol durian, Nias juga mempunyai makanan khas Kue Pia berjenis kering. Kue Pia Nias memang terbilang berukuran besar dibandingkan dengan Kue Pia lainnya di berbagai daerah. Kue Pia memang tergolong sebagai makanan kuliner asimilasi etnis Tiongkok di Indonesia. Dalam laman buahatiku.com, Kue Pia yang dikenal juga dengan Bakpia itu berasal dari dialek Hokkian dengan nama asli Tou Luk Pia yang artinya kue atau roti yang berisikan daging. Di Indonesia, Kue Pia divariasi dengan sangat beragam berisi kacang hijau, coklat, nanas, duren dan berbagai macam jenis. Kue Pia Nias memang mengundang selera. Ukurannya pun, memang terbilang besar dan berjenis kue pia kering, sehingga terasa crispy dan renyah gurihnya. Kue Pia yang paling terkenal di Nias adalah merk Tanda Setia. Unit usahanya ada di Gunung Sitoli, tepatnya di seputar kawasan jalan Patimura atau jalan Sirao. Biasanya Kue Pia itu berisi gula merah dan tausa. Rasanya memang terbilang manis, seperti umumnya kue pia lainnya. [capt...