Skip to main content

Gagasan Syarif Yunus: 'Kampoeng Senyoem Sukaluyu', Desa Berbasis KAGA Sastra

Melalui situs Kompasiana, tak sengaja saya membaca tulisan Syarif Yunus tentang Desa Sukaluyu yang memiliki pemandangan indah ini. Saya penasaran dan tergerak untuk meneruskannya kepada Anda, Traveler. Syarif Yunus telah mengenal desa ini 28 tahun sebagai pendatang. Bahkan, 15 tahun belakangan ini Syarif memiliki tempat tinggal di desa ini. Melakukan kegiatan sosial untuk masyarakat dan anak-anak yatim.

Menurut Syarif Yunus, Desa Sukaluyu Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor, boleh dibilang salah satu desa pra sejahtera di Kabupaten Bogor. Sangat tidak adil, sebenarnya, desa yang punya kekayaan alam berupa perkebunan, keindahan alam di kaki Gunung Salak ini tergolong miskin atau pra sejahtera. Padahal letaknya, hanya sekitar 1,5 jam dari Jakarta atau sekitar 72 km dari Ibukota Jakarta. Dari 10.000 jiwa penduduk, 36% penduduk Desa Sukaluyu tidak bekerja atau hanya buruh harian. Hal ini terjadi, mungkin karena 90% tingkat pendidikan penduduknya hanya tamat SD/SMP dan sederajat. Desa Sukaluyu, dipastikan luput dari perhatian pemerintah, para investor maupun upaya pemberdayaan masyarakat.

[caption id="attachment_2164" align="aligncenter" width="1024"] Desa Sukaluyu yang menurut Syarif Yunus amat potensial. (foto: arnaldi-nasrum.blogspot.co.id)[/caption]

Desa Sukaluyu adalah desa yang punya potensi alam dan kebun yang luar biasa. Tapi sayang, “mind set” dan cara pandang ekonomi masyarakatnya salah atau memang tidak diperhatikan. Kondisi ini makin memprihatinkan karena kreativitas bisa dibilang ‘mati’ di sini. Maka wajar, bagi Syarif, banyak lahan kosong atau tanah yang dimiliki oleh pendatang khususnya orang-orang Jakarta.

Terbersit keinginan Syarif Yunus untuk menjadikan Desa Sukaluyu sebagai “KAMPOENG SENYOEM SUKALUYU”, sebuah kawasan desa wisata berbasis KEBUN – ALAM – GUNUNG – ADAB – SASTRA (KAGAS). Kampoeng yang setiap orang di desa ini dan orang-orang yang datang HARUS SENYOEM, DILARANG CEMBERUT ATAWA MINGKEM. Desa yang menjunjung tinggi ADAB tradisional SUNDA, ADAB Senyoem yang semakin langka, ADAB untuk saling menghormati dan menghargai. Tersebutlah “KAMPOENG SENYOEM SUKALUYU”. Demikianlah hal yang menjadi gagasan Syarif Yunus, dan berupaya untuk mempresentasikan konsep tersebut.

Jika ada orang-orang Jakarta (demikian Syarif menyebutnya, sebutan yang lazim bagi penduduk kampung sekitar Jakarta), atau mereka yang mapan secara ekonomi, pergi jauh-jauh untuk wisata ke Bandung, Yogya, Cirebon, Malang dan sebagainya. Kenapa mereka tidak pergi juga ke KAMPOENG SENYOEM SUKALUYU, untuk menikmati permainan/game, wisata kebun, wisata ekspresi peradaban di lokasi yang tak terlalu jauh dari Kota Jakarta. Tempat wisata yang MURAH, MERIAH, MUDAH, dan MENARIK sangat-sangat bisa dan ada di KAMPOENG SENYOEM SUKALUYU.

Apa hebatnya Kampoeng Senyoem Sukaluyu? Nantinya, KAMPOENG SENYOEM SUKALUYU akan menjadi kawasan SENYOEM buat semua orang, penduduk asli maupun pendatang. Kampoeng yang “mengharamkan” CEMBERUT atau MINGKEM bagi setiap orang yang berada atau melintasi wilayah ini. Penduduk asli-nya pun akan diubah “mind set”-nya untuk selalu berpakaian AKANG untuk yang lelaki dan NYAI untuk yang perempuan. SEMUA ORANG HARUS “SENYOEM”, biar gak stress, biar plong, biar sehat. Imbuh Syarif Yunus lagi di dalam tulisannya.

[caption id="attachment_2165" align="aligncenter" width="1024"] Salah satu keindahan Sukaluyu. Syarif Yunus cukup jeli melihat potensi desa ini lewat gagasannya. (foyo: arnaldi-nasrum.blogspot.co.id)[/caption]

Ada 5 “Jualan Marketing” KAMPOENG SENYOEM SUKALUYU nantinya, yaitu kebun, alam, gunung, adab, dan sastra. Semuanya mengandung edukasi kebudayaan dan mengekspresikan kebudayaan itu sendiri. Tentunya, bagi saya, hal paling menarik ialah sastra. Konsep Syarif Yunus adalah kampung ini akan jadi kawasan WISATA SASTRA. Bisa jadi ini pertama kali di Indonesia. SPOT PUISI, SPOT CERPEN, dan SPOT DRAMA/TEATER. Dengan latar atau settingan gaya sastra, setiap orang yang datang bisa baca puisi, karya sastra, atau bermain teater lengkap dengan naskah dan pakaian yang disediakan. Siapapun yang ke sini, rasakanlah nikmatnya membaca puisi, membaca cerpen, dan ber-teater dengan gaya Anda sendiri.

Para pengunjung KAMPOENG SENYOEM SUKALUYU pun akan dimanjakan dengan waroeng makan atau kulineran KHAS SUNDA, yang dijajakan kaum ibu atau perempuan di desa ini. Lelah berkebun, lelah wisata alam, lelah wisata gunung, lelah wisata adab, danlelah wisata sastra, silahkan nikmati hidangan “alakadarnya” orang-orang kampung yang murah meriah.

Syarif Yusufpun menyadari, tak mudah mudah bisa mewujudkan KAMPOENG SENYOEM SUKALUYU. Namun bukan berarti tidak bisa, atau tidak mungkin. Di tengah hiruk pikuk kehidupan dan dinamika peradaban yang semakin “bersilangan”, maka KAMPOENG SENYOEM SUKALUYU adalah sebuah alternatif, sebuah pilihan, sekaligus sebuah kawasan yang dinantikan banyak orang yang pusing, yang sering galau, yang kebingungan wisata, bahkan yang ingin buang uang. SEKALI ANDA KE SINI, MAKA ANDA SEDANG MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT YANG PANTAS DIBERDAYAKAN. Itu saja, pemikiran Syarif.

Untuk itu, Syarif Yunus menyadari, INVESTOR sangat diperlukan untuk mewujudkan KAMPOENG SENYOEM SUKALUYU. Jika Anda tertarik, jadilah investor di sini. Konsep dan gagasan sebagus apapun, terlalu mudah menjadi “NOL” karena tidak adanya dukungan dana.

Demikianlan Syarif Yunus dengan gagasan KAMPOENG SENYOEM SUKALUYU-nya, sebuah kampung yang berbasis KAGAS. Kebun. Alam. Gunung. Adab. Sastra.

Bagaimana menurut Anda?

 

Comments

Popular posts from this blog

Maron Mangrove Edupark, Ekowisata yang Lagi Hits di Semarang

Maron Mangrove Edupark Semarang merupakan ekowisata hutan mangrove atau hutan bakau. Destinasi wisata hutan mangrove seluas lima hektare ini terletak di sekitar Pantai Maron Semarang, dengan akses masuk yang sama tak jauh dari Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Menurut Tempo.com , sejak dibuka sampai saat ini, sudah banyak pengunjung yang mendatangi destinasi wisata itu dengan kisaran 50-100 orang/hari, dan bisa 500 orang saat akhir pekan. "Para pengunjung akan mendapatkan pengalaman baru selain berwisata. Mereka bisa belajar bagaimana mengenal, menanam, dan merawat mangrove," kata pengelola Maroon Mangrove Edupark Semarang Rusmadi, Ketua Kelompok Mekartani Lindung. [caption id="attachment_2352" align="aligncenter" width="2304"] Menjelajahi hutan bakau di Maron Mangrove Edupark, Semarang. (foto: assets.kompasiana.com)[/caption] Ia menjelaskan tanaman mangrove sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai pelindung daratan dari ancaman abrasi...

5 Tips Agar Liburan Lebih Seru dan Menyenangkan

Pergi berlibur, tentunya harus membuat hati senang. Indonesia punya banyak tempat lucu. Tapi cara liburannya juga butuh kiat khusus agar menyenangkan. Jika liburan dengan perasaan tidak enak atau gundah akan merusak mood. Padahal kita liburan karena ingin menghilangkan stress dan kepenatan. Untuk itu, kita harus tahu cara liburan supaya seru dan penuh kegembiraan. Dari mulai teman traveling, tempat tujuan, dan segala kebutuhan traveling lainnya dapat menjadi faktor liburan yang menyenangkan. Kali ini, kami akan memberikan beberapa tips untuk liburan yang asyik: 1. Ajak teman yang humoris Tentunya, traveler butuh hiburan yang dapat mengisi di sela-sela kekosongan saat traveling. Contohnya, jika pesawat terkena delay atau bahkan hal-hal yang dapat merusak suasana hati. Mengajak teman yang humoris bisa menjadi solusinya. Mereka bisa menghibur traveler yang sedang bosan atau bahkan emosi sekalipun. Apalagi jika di tempat yang susah dengan jangkauan teknologi, yang paling manjur pasti berca...

Mencicipi Sajian Khas Kue Pia Nias

Selain dodol durian, Nias juga mempunyai makanan khas Kue Pia berjenis kering. Kue Pia Nias memang terbilang berukuran besar dibandingkan dengan Kue Pia lainnya di berbagai daerah. Kue Pia memang tergolong sebagai makanan kuliner asimilasi etnis Tiongkok di Indonesia. Dalam laman buahatiku.com, Kue Pia yang dikenal juga dengan Bakpia itu berasal dari dialek Hokkian dengan nama asli Tou Luk Pia yang artinya kue atau roti yang berisikan daging. Di Indonesia, Kue Pia divariasi dengan sangat beragam berisi kacang hijau, coklat, nanas, duren dan berbagai macam jenis. Kue Pia Nias memang mengundang selera. Ukurannya pun, memang terbilang besar dan berjenis kue pia kering, sehingga terasa crispy dan renyah gurihnya. Kue Pia yang paling terkenal di Nias adalah merk Tanda Setia. Unit usahanya ada di Gunung Sitoli, tepatnya di seputar kawasan jalan Patimura atau jalan Sirao. Biasanya Kue Pia itu berisi gula merah dan tausa. Rasanya memang terbilang manis, seperti umumnya kue pia lainnya. [capt...