Skip to main content

Berita Hangat Bubur Lemu, Makanan Ndesa yang Terangkat

Pemberitaan media yang hangat, tentang pertemuan Putra Sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, dengan Putra Sulung Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono yakni Agus Harimurti Yudhoyono, mengingatkan saya pada makanan ndesa bubur lemu yang pernah saya cicipi ketika berada di Jogja.

Jogja? Hmm,...rupanya bubur ini memang tak hanya ada di Solo, tempat Gibran lahir. Di kampung-kampung, di Jawa Tengah, bubur ini nampaknya masih ada hingga kini. Hanya saja, bubur lemu kerap disajikan secara berbeda.

Misalnya saja di Semarang, bubur lemu disajikan dalam bentuk bubur bersama sambal goreng krecek, dengan terik ayam atau tahu. Mungkin sedikit persamaan, bubur lemu di Solo maupun Jogja, bubur disajikan bersama gudeg lengkap.

[caption id="attachment_1807" align="aligncenter" width="700"] Bubur Lemu dalam bentuk lain, sajian bubur dan sambal goreng krecek dengan tempe pedasnya, terek tahu tanpa gudeg dan siraman areh-nya. (foto: Tribun Jogja)[/caption]

Seperti yang dilansir Kompas.com, terselip makna dalam sepiring masakan bubur lemu. Dosen Prodi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Heri Priyatmoko mengungkapkan bahwa dari kacamata sosiologi, bubur adalah makanan tradisional yang tak terperangkap dalam kasta sosial. Dari keluarga raja, priyayi hingga wong cilik sama-sama memakai jenang untuk dikonsumsi dan sebagai sesaji.

"Jenang atau bubur sukses melebur di kehidupan masyarakat. Bubur bukan milik satu golongan saja. Bubur makanan asli Nusantara adalah simbol kesederhanaan. Bahan untuk membuatnya berasal dari lingkungan sekitar, tanpa harus impor, dan diolah dengan cara sederhana. Bubur  biasa disajikan di atas takir atau daun pisang yang dipetik di pekarangan rumah".

Heri Priyatmoko juga mengungkapkan,  bahwa menghadirkan dan membincangkan jenang berarti kita melihat bentuk Nusantara (Jawa) yang asli, tanpa kepalsuan. Pelajaran hidup sederhana, dan tiada kesenjangan sosial.

Namun sebetulnya, mengapa dinamakan bubur lemu? Apakah karena bubur masakan ndesa ini bila disajikan lengkap dapat membuat tubuh kita jadi gemuk, atau bagaimana? Entahlah. Sepertinya turun temurun nama itu begitu saja ada.

[caption id="attachment_1808" align="aligncenter" width="700"] Warung Bubur Lemu, Yogyakarta. Bertahan di tengah maraknya bubur Jakarta yang masuk ke Yogyakarta. (foto: Tribun Jogja)[/caption]

Akan tetapi, di Jogja ternyata ada warung makan bernama Bubur Lemu. Dijelaskan Nanang Kuswanto dalam Tribun Jogja, selaku pengelola Bubur Lemu, penamaan ini dipilih karena penjualnya bertubuh tambun atau gemuk, yang dalam bahasa Jawa berarti lemu.

Warung Bubur Lemu berada di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Pakualaman, Yogyakarta. Nanang memilih berjualan khas Yogyakarta ini karena ingin mempertahankan jenis bubur lemu di tengah semakin banyaknya bubur Jakarta di Yogyakarta. Kini makin sedikit orang berjualan bubur lemu.

Penyajiannya tak beda lho dengan bubur lemu yang teramu dalam jamuan putra Presiden dan mantan Presiden itu. Anda perlu mencoba masakan ndesa ini, terbukti kenikmatannya mampu menghangatkan suasana perpolitikan di Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

Maron Mangrove Edupark, Ekowisata yang Lagi Hits di Semarang

Maron Mangrove Edupark Semarang merupakan ekowisata hutan mangrove atau hutan bakau. Destinasi wisata hutan mangrove seluas lima hektare ini terletak di sekitar Pantai Maron Semarang, dengan akses masuk yang sama tak jauh dari Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Menurut Tempo.com , sejak dibuka sampai saat ini, sudah banyak pengunjung yang mendatangi destinasi wisata itu dengan kisaran 50-100 orang/hari, dan bisa 500 orang saat akhir pekan. "Para pengunjung akan mendapatkan pengalaman baru selain berwisata. Mereka bisa belajar bagaimana mengenal, menanam, dan merawat mangrove," kata pengelola Maroon Mangrove Edupark Semarang Rusmadi, Ketua Kelompok Mekartani Lindung. [caption id="attachment_2352" align="aligncenter" width="2304"] Menjelajahi hutan bakau di Maron Mangrove Edupark, Semarang. (foto: assets.kompasiana.com)[/caption] Ia menjelaskan tanaman mangrove sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai pelindung daratan dari ancaman abrasi...

5 Tips Agar Liburan Lebih Seru dan Menyenangkan

Pergi berlibur, tentunya harus membuat hati senang. Indonesia punya banyak tempat lucu. Tapi cara liburannya juga butuh kiat khusus agar menyenangkan. Jika liburan dengan perasaan tidak enak atau gundah akan merusak mood. Padahal kita liburan karena ingin menghilangkan stress dan kepenatan. Untuk itu, kita harus tahu cara liburan supaya seru dan penuh kegembiraan. Dari mulai teman traveling, tempat tujuan, dan segala kebutuhan traveling lainnya dapat menjadi faktor liburan yang menyenangkan. Kali ini, kami akan memberikan beberapa tips untuk liburan yang asyik: 1. Ajak teman yang humoris Tentunya, traveler butuh hiburan yang dapat mengisi di sela-sela kekosongan saat traveling. Contohnya, jika pesawat terkena delay atau bahkan hal-hal yang dapat merusak suasana hati. Mengajak teman yang humoris bisa menjadi solusinya. Mereka bisa menghibur traveler yang sedang bosan atau bahkan emosi sekalipun. Apalagi jika di tempat yang susah dengan jangkauan teknologi, yang paling manjur pasti berca...

Mencicipi Sajian Khas Kue Pia Nias

Selain dodol durian, Nias juga mempunyai makanan khas Kue Pia berjenis kering. Kue Pia Nias memang terbilang berukuran besar dibandingkan dengan Kue Pia lainnya di berbagai daerah. Kue Pia memang tergolong sebagai makanan kuliner asimilasi etnis Tiongkok di Indonesia. Dalam laman buahatiku.com, Kue Pia yang dikenal juga dengan Bakpia itu berasal dari dialek Hokkian dengan nama asli Tou Luk Pia yang artinya kue atau roti yang berisikan daging. Di Indonesia, Kue Pia divariasi dengan sangat beragam berisi kacang hijau, coklat, nanas, duren dan berbagai macam jenis. Kue Pia Nias memang mengundang selera. Ukurannya pun, memang terbilang besar dan berjenis kue pia kering, sehingga terasa crispy dan renyah gurihnya. Kue Pia yang paling terkenal di Nias adalah merk Tanda Setia. Unit usahanya ada di Gunung Sitoli, tepatnya di seputar kawasan jalan Patimura atau jalan Sirao. Biasanya Kue Pia itu berisi gula merah dan tausa. Rasanya memang terbilang manis, seperti umumnya kue pia lainnya. [capt...