Skip to main content

Gold Coast: Surfers Paradise dan Movie World

Banyak yang bilang belum ke Australia kalau belum ke Gold Coast. Kota wisata pantai yang berada di timur Australia ini memang mempunyai magnet yang sangat kuat untuk menarik wisatawan. Buktinya jutaan wisatawan mengunjungi tempat ini setiap tahunnya. Termasuk saya yang sengaja terbang jauh ke Gold Coast untuk membuktikan dan menjelajahi keindahannya.

Ada dua magnet terkuat yang menjadi tujuan wisatawan datang ke Gold Coast. Pertama, pantainya yang berpasir putih dan memanjang puluhan kilometer. Kedua, theme park yang menyajikan berbagai permainan kelas dunia yang menantang adrenalin.

Surfers Paradise

[caption id="attachment_1360" align="aligncenter" width="960"] Surfers Paradise, surganya para peselancar. (Foto: pribadi)[/caption]

Ada tiga pantai yang sangat terkenal di Gold Coast yaitu Broad Beach, Main Beach, dan Surfers Paradise Beach. Pantai terakhir sangat terkenal di kalangan penggila surfing dan backpaker. Oleh karena itulah dan atas rekomendasi teman sesama traveler, saya memilih hotel yang berada di area pantai Surfers Paradise.

Saya tiba siang hari. Setelah check in hotel dan istirahat sejenak saya menuju pantai di sore hari. Hanya berjalan lima menit dari hotel saya telah tiba di pantai Surfer Paradise yang sangat terkenal ini. Di depan saya terpampang pasir putih yang halus dan sedikit menyilaukan mata. Saya melepaskan sandal. Dan kaki saya langsung terbenam di pasir putih serupa tepung ini. Saya harus berjalan lebih dari lima puluh meter untuk tiba di bibir pantai. Dan ketika saya mencelupkan kaki ke laut, ternyata airnya dingin. Padahal saat ini sedang musim panas.

Pantai ini sangat luas dan panjang. Ketika saya menoleh ke kiri dan kanan, tidak tampak ujungnya. Di pinggir pantai berdiri banyak hotel, apartemen, dan gedung-gedung tinggi lainnya. Tidak banyak orang yang sedang menikmati tempat ini. Hanya beberapa kelompok orang yang sedang berjemur. Tidak seperti pantai Kuta atau Seminyak di Bali yang selalu penuh dan ramai.

Perlahan saya berjalan menyusuri pantai menuju ke pusat keramaian Surfer Paradise. Sambil sesekali bermain dengan burung-burung merpati yang banyak terdapat di sepanjang pantai ini. Mereka terbang berkeliaran bermain di atas ombak yang menghempas pantai dengan kuat. Ketika air kembali ke laut burung-burung ini terbang melompat-lompat mematuk ikan kecil yang terdampar. Baru sekali ini saya melihatnya. Perpaduan yang indah. Birunya laut dan putihnya pasir ditingkahi debur ombak dan ragam warna burung merpati.

Rasanya wajar kalau pantai ini sangat terkenal di kalangan penggila surfing. Karena ombaknya sangat tinggi dan menghempas kuat di pantai pasir putih yang halus. Tidak nampak karang-karang berbahaya yang menghalangi seperti di pantai Suluban, Bali. Sehingga aman buat para surfer baik yang baru belajar maupun yang sudah profesional.

Saya juga melihat beberapa pemancing melempar kailnya ke tengah laut. Sambil berbasah-basahan terkena deburan ombak. Bingung juga melihatnya. Di tengah deburan ombak yang keras begini, apakah ada ikan yang bakal memakan kailnya. Karena penasaran, saya bertanya dan ternyata mereka penduduk asli Gold Coast yang sudah biasa memancing disini. Mereka sengaja memancing agak siang menjelang sore, karena pantai masih sepi. Makin sore pantai ini makin ramai. Sehingga pelan-pelan mereka menyingkir ke tempat yang lebih sepi, agar kail mereka tak terkena orang yang berenang.

[caption id="attachment_1359" align="aligncenter" width="960"] Ini tanya salah satu dari sekian banyak toko suvenir yang ada di sekitar vantai di Gold Coast. (Foto: pribadi)[/caption]

Makin sore pantai ini makin ramai. Tampak banyak orang mulai bergerombol menuju pantai. Sebagian sekadar berjemur dan sebagian lagi langsung melepas pakaian dan nyebur ke laut. Saya malah menepi dan menuju pusat keramaian Surfer Paradise. Layaknya Kuta Square atau Seminyak Square di Bali ada satu mal yang cukup besar. Di dalamnya banyak terdapat restaurant, cafe, butik-butik pakaian, toko suvenir, toko-toko permainan anak-anak dan dewasa juga tempat-tempat massage dan spa yang sebagian besar dikelola oleh orang Thailand.

Untuk makan di sini harga rata-rata 9 sampai 20 dollar Australia per porsi. Sedangkan untuk pijat dibanderol 30 sampai 50 dollar Australia untuk 30 menit sampai dengan satu jam. Sangat mahal jika dibandingkan dengan di Indonesia. Harga suvenir dan pakaian juga tak beda jauh.

Setelah puas melihat-lihat dan membanding-bandingkan harga. Saya memilih untuk menepi di restaurant yang pemandangannya langsung ke pantai. Tidak ada pelohonan yang menghalangi. Sambil memesan secangkir teh dan sepiring kudapan saya melepas pandangan sejauh mata memandang.  Menikmati indahnya sunset yang memancarkan beragam warna di ujung timur benua Australia ini.

(Bersambung....)

Zahrudin Haris

Comments

Popular posts from this blog

5 Tips Agar Liburan Lebih Seru dan Menyenangkan

Pergi berlibur, tentunya harus membuat hati senang. Indonesia punya banyak tempat lucu. Tapi cara liburannya juga butuh kiat khusus agar menyenangkan. Jika liburan dengan perasaan tidak enak atau gundah akan merusak mood. Padahal kita liburan karena ingin menghilangkan stress dan kepenatan. Untuk itu, kita harus tahu cara liburan supaya seru dan penuh kegembiraan. Dari mulai teman traveling, tempat tujuan, dan segala kebutuhan traveling lainnya dapat menjadi faktor liburan yang menyenangkan. Kali ini, kami akan memberikan beberapa tips untuk liburan yang asyik: 1. Ajak teman yang humoris Tentunya, traveler butuh hiburan yang dapat mengisi di sela-sela kekosongan saat traveling. Contohnya, jika pesawat terkena delay atau bahkan hal-hal yang dapat merusak suasana hati. Mengajak teman yang humoris bisa menjadi solusinya. Mereka bisa menghibur traveler yang sedang bosan atau bahkan emosi sekalipun. Apalagi jika di tempat yang susah dengan jangkauan teknologi, yang paling manjur pasti berca...

Maron Mangrove Edupark, Ekowisata yang Lagi Hits di Semarang

Maron Mangrove Edupark Semarang merupakan ekowisata hutan mangrove atau hutan bakau. Destinasi wisata hutan mangrove seluas lima hektare ini terletak di sekitar Pantai Maron Semarang, dengan akses masuk yang sama tak jauh dari Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Menurut Tempo.com , sejak dibuka sampai saat ini, sudah banyak pengunjung yang mendatangi destinasi wisata itu dengan kisaran 50-100 orang/hari, dan bisa 500 orang saat akhir pekan. "Para pengunjung akan mendapatkan pengalaman baru selain berwisata. Mereka bisa belajar bagaimana mengenal, menanam, dan merawat mangrove," kata pengelola Maroon Mangrove Edupark Semarang Rusmadi, Ketua Kelompok Mekartani Lindung. [caption id="attachment_2352" align="aligncenter" width="2304"] Menjelajahi hutan bakau di Maron Mangrove Edupark, Semarang. (foto: assets.kompasiana.com)[/caption] Ia menjelaskan tanaman mangrove sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai pelindung daratan dari ancaman abrasi...

Surabaya Ingin Pasar Tradisional untuk Wisata

Banyak yang belum menyadari bahwa pasar tradisional bisa menjadi potensi wisata. Kendati demikian, masih ada yang peduli pada hal tersebut. Salah satunya adalah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Tri Rismaharini memang dikenal sebagai sosok yang memiliki gagasan-gagasan maju yang kerap dianggap kontroversi. Tetapi demi kemajuan warganya, ia teguh pada prinsip yang dimilikinya. Risma, begitu ia biasa dipanggil, memiliki cita-cita menjadikan pasar tradisonal menjadi lebih baik. Jauh dari predikat sumpek, becek, dan kumuh. Sehingga akan menjadi pilihan warga untuk belanja daripada di pasar modern. "Saya berharap secepatnya pembangunan ini, karena kalau saya turun (dari Wali Kota Surabaya) yang kedua ini, saya ingin pasar Surabaya bagus semuanya," kata Risma, Sabtu (25/2/2017) seperti dilansir dari detikcom . Risma juga mengambilalih kebijakan PD Pasar Surya sebagai BUMD dengan memperbaiki pasar tradisional. Ia memerintahkan pada lurah untuk mendokumentasikan kondisi pasar tradi...