Skip to main content

Rasakan Degup Sepakbola di Jantung Kota Zurich

Belum banyak yang tahu kalau Federasi Sepakbola Internasional alias FIFA membuat FIFA World Football di Zurich, Swiss. Sesuai namanya, museum ini ingin merayakan kekayaan sejarah sepakbola.

Selain alasan tersebut, museum ini dihadirkan untuk menunjukkan bagaimana pertandingan demi pertandingan sepakbola terus menghubungkan dan menginspirasi dunia.

[caption id="attachment_1018" align="aligncenter" width="673"] FIFA world football museum, foto: tripadvisor[/caption]

Sebagai museum ciptaan FIFA, tentu saja ada kisah mengenai bagaimana organisasi itu menumbuhkan dan mengembangkan berbagai asosiasi sepakbola di berbagai negara di belahan dunia. Perjuangan panjang yang di kemudian hari membuat sepakbola tanpa diragukan lagi menjadi olahraga nomor satu di dunia yang mampu menyatukan bangsa-bangsa.

Salah satu situs yang wajib dikunjungi di museum ini adalah FIFA World Cup Gallery. Seluruh pecinta olahraga dan sepakbola wajib mengunjungi galeri yang didedikasikan bagi sejarah sepakbola dengan segala kisah kejayaannya. Berbagai koleksi yang mencengangkan tersimpan di galeri ini, termasuk trofi Piala Dunia.

Peragaan multimedia bisa dirasakan di museum ini. Selain berbagai koleksi yang bisa disaksikan dari berbagai sisi, penggunaan teknologi audiovisual akan membawa pengunjung dapat merasakan sensasi yang berbeda. FIFA World Football Museum sangat jelas menunjukkan betapa sepakbola memberikan pengaruh positif pada banyak orang, memberi inspirasi ke seluruh dunia.

[caption id="attachment_1023" align="aligncenter" width="800"] gedung FIFA World Football Museum, foto: fifamuseum.com[/caption]

Bangunan museum ini juga punya sejarahnya sendiri. Keberadaannya menjadi mungkin setelah FIFA menandatangani kontrak sewa Haus zur Enge selama 40 tahun dengan Swiss Life. Letaknya di Tessinerplatz di tengah kota Zurich.

Proses konstruksi museum itu kemudian dilakukan dalam rentang 25 April 2013 hingga 18 Desember 2015. Sekitar dua setengah tahun lamanya. Pada 28 Februari 2016 Museum resmi dibuka.

Saat ini, FIFA World Football Museum memiliki ruang eksibisi sebanyak tiga lantai. Ada pula sports bar, kafe, dan toko cinderamata di sana.

[caption id="attachment_1020" align="aligncenter" width="800"] Sportbar 1904, cafe di dalam museum FIFA, foto: fifamuseum.com[/caption]

Bagi Anda yang hendak berkunjung ke sana, jangan lupa untuk memperhatikan jam buka. Setiap Selasa sampai Sabtu dibuka dari jam sepuluh hingga tujuh malam waktu setempat. Hari Sabtu dibuka dari jam Sembilan pagi hingga enam sore. Museum ini tidak melayani pengunjung pada hari Senin.

Letaknya yang berada tepat di jantung Kota Zurich membuatnya mudah untuk dijangkau dengan transportasi umum. Jadi, tunggu apalagi?

Johanes Indra, traveltoday

Comments

Popular posts from this blog

5 Tips Agar Liburan Lebih Seru dan Menyenangkan

Pergi berlibur, tentunya harus membuat hati senang. Indonesia punya banyak tempat lucu. Tapi cara liburannya juga butuh kiat khusus agar menyenangkan. Jika liburan dengan perasaan tidak enak atau gundah akan merusak mood. Padahal kita liburan karena ingin menghilangkan stress dan kepenatan. Untuk itu, kita harus tahu cara liburan supaya seru dan penuh kegembiraan. Dari mulai teman traveling, tempat tujuan, dan segala kebutuhan traveling lainnya dapat menjadi faktor liburan yang menyenangkan. Kali ini, kami akan memberikan beberapa tips untuk liburan yang asyik: 1. Ajak teman yang humoris Tentunya, traveler butuh hiburan yang dapat mengisi di sela-sela kekosongan saat traveling. Contohnya, jika pesawat terkena delay atau bahkan hal-hal yang dapat merusak suasana hati. Mengajak teman yang humoris bisa menjadi solusinya. Mereka bisa menghibur traveler yang sedang bosan atau bahkan emosi sekalipun. Apalagi jika di tempat yang susah dengan jangkauan teknologi, yang paling manjur pasti berca...

Maron Mangrove Edupark, Ekowisata yang Lagi Hits di Semarang

Maron Mangrove Edupark Semarang merupakan ekowisata hutan mangrove atau hutan bakau. Destinasi wisata hutan mangrove seluas lima hektare ini terletak di sekitar Pantai Maron Semarang, dengan akses masuk yang sama tak jauh dari Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Menurut Tempo.com , sejak dibuka sampai saat ini, sudah banyak pengunjung yang mendatangi destinasi wisata itu dengan kisaran 50-100 orang/hari, dan bisa 500 orang saat akhir pekan. "Para pengunjung akan mendapatkan pengalaman baru selain berwisata. Mereka bisa belajar bagaimana mengenal, menanam, dan merawat mangrove," kata pengelola Maroon Mangrove Edupark Semarang Rusmadi, Ketua Kelompok Mekartani Lindung. [caption id="attachment_2352" align="aligncenter" width="2304"] Menjelajahi hutan bakau di Maron Mangrove Edupark, Semarang. (foto: assets.kompasiana.com)[/caption] Ia menjelaskan tanaman mangrove sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai pelindung daratan dari ancaman abrasi...

Mencicipi Sajian Khas Kue Pia Nias

Selain dodol durian, Nias juga mempunyai makanan khas Kue Pia berjenis kering. Kue Pia Nias memang terbilang berukuran besar dibandingkan dengan Kue Pia lainnya di berbagai daerah. Kue Pia memang tergolong sebagai makanan kuliner asimilasi etnis Tiongkok di Indonesia. Dalam laman buahatiku.com, Kue Pia yang dikenal juga dengan Bakpia itu berasal dari dialek Hokkian dengan nama asli Tou Luk Pia yang artinya kue atau roti yang berisikan daging. Di Indonesia, Kue Pia divariasi dengan sangat beragam berisi kacang hijau, coklat, nanas, duren dan berbagai macam jenis. Kue Pia Nias memang mengundang selera. Ukurannya pun, memang terbilang besar dan berjenis kue pia kering, sehingga terasa crispy dan renyah gurihnya. Kue Pia yang paling terkenal di Nias adalah merk Tanda Setia. Unit usahanya ada di Gunung Sitoli, tepatnya di seputar kawasan jalan Patimura atau jalan Sirao. Biasanya Kue Pia itu berisi gula merah dan tausa. Rasanya memang terbilang manis, seperti umumnya kue pia lainnya. [capt...