Skip to main content

Banjir Turis Indonesia di Osaka

Pada perayaan tahun baru 2017 ini, saya diminta untuk menemani satu keluarga tur ke Jepang. Kota-kota yang ingin disinggahi standard paket-paket tur yang biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan penyelenggara tur ke Jepang pada umumnya. Yaitu masuk dari Kansai International Airport menginap di Osaka dua malam lanjut menginap di Kyoto dua malam, 1 malam di Lake Kawaguchi dan 3 malam di Tokyo. Total jadi 9 hari 8 malam belum termasuk perjalanan di pesawat.

Kami berangkat dari airport soekarno hatta pukul 5.15 sore transit di Bali selama 3,5 jam, kemudian lanjut terbang ke Osaka dari airport ngurah rai Bali jam 12.30 malam dan tiba di Kansai International airport yang biasa disingkat KIX pukul 8.30 pagi waktu jepang dengan selisih waktu lebih cepat 1 jam dari Bali dan 2 jam dari Jakarta.

Ternyata pesawat Garuda yang saya tumpangi full turis asal Indonesia yang akan menghabiskan liburan tahun barunya di Jepang. Saya sempat berbicara dengan beberapa group yang dibawa oleh beberapa perusahaan tur travel ternama. Satu grup ada yang berjumlah 25 s/d 30 orang.

Pantas saja semua penerbangan full dan harga tiket jauh lebih mahal daripada sebelumnya karena ternyata permintaan sangat tinggi. Berbeda sekali dengan dua atau tiga tahun lalu. Mungkin ini terjadi akibat kebijakan pemerintah jepang yang memudahkan turis-turis asal Indonesia untuk mengurus visa liburan ke Jepang terutama yang sudah punya E-Passport malah cuma memerlukan ijin tertulis yang satu hari selesai tampa biaya dan dapat kunjungan bisa sampai tiga tahun dengan lama tinggal 15 hari. Kebijakan ini ternyata sangat efektif. Buktinya ribuan orang Indonesia berduyun-duyun liburan ke Jepang.

[caption id="attachment_946" align="aligncenter" width="960"] Zahrudin Haris sedang berfoto di Osaka Castle[/caption]

Setiap saya mengunjungi destinasi utama di Osaka seperti Osaka castle dan beberapa tempat lainnya saya banyak menemui turis asal Indonesia. Baik lagi sama-sama di toilet, reataurant ataupun lagi saling foto selfie menikmati keindahan Osaka.

Dan yang paling banyak tentu saja di Shinsaibasi Shopping Arcade, tempat shopping yang sangat terkenal di Osaka. Jalan sepanjang hampir 2 km yang bebas dari kendaraan ini, di kiri kanannya dipenuhi oleh banyak butik-butik baik brand international maupun lokal. Sepanjang jalan yang sangat rapi bersih dan terlindung dari matahari ini saya menemui banyak sekali wisatawan Indonesia yang menenteng banyak belanjaan. Karena lagi banyak discount akhir tahun, harga semua produk menjadi sangat murah.

[caption id="attachment_947" align="aligncenter" width="960"] Zahrudin Haris sedang di salah satu pusat perbelanjaan di Osaka[/caption]

Setiap kali mendengar yang berbahasa Indonesia, jawa atau melayu khas Sumatera dan Kalimantan, saya selalu iseng menyapa dan bertanya. Pertanyaan yang singkat, "Halo Indonesia yaa? dari kota mana??". dan mereka dengan senang hati dan tersenyum juga wajah yang agak heran pasti menjawab. Ternyata mereka sudah mewakili banyak daerah di Indonesia, ada yang dari Surabaya, Malang, Cirebon, Makasar, Semarang, Jogjakarta, Bali, Medan, Bandung dan terbanyak tentu saja tetap dari Jakarta.

Saya hanya tersenyum dan setelah berbasa basi singkat sebagai sesama orang Indonesia, kembali melanjutkan perjalanan mendampingi keluarga yang saya bawa ikut berbelanja sampe semua tangan penuh belanjaan.. hahaha..

Tipikal turis indonesia yang tidak bisa melihat kata "SALE" terpampang di dinding toko langsung masuk dan borong semua. Saya yang saat ini mulai pilih-pilih kalau belanja hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.. hehe..

Ini mengingatkan saya waktu awal-awal tahun dua ribuan, ketika orang Indonesia membanjiri Orchard Road Singapore dan tempat-tempat perbelanjaan di Hong Kong. Persis seperti sekarang. Mungkin mereka yang selama ini sudah bosan dengan Singapura atau Hong Kong kini mulai beralih ke Jepang dan Korea, sedangkan Singapura dan Hong Kong kini tetap dipenuhi wisatawan asal Indonesia namun yang baru-baru suka tur atau orang-orang kaya dari daerah-daerah yang sekarang sudah terkoneksi penerbangan langsung ke Singapura dan Hong Kong.

[caption id="attachment_948" align="aligncenter" width="960"] Zahrudin Haris (kedua dari kiri) sedang berfoto dengan turis Indonesia di Osaka[/caption]

Hal ini sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu yang belum begitu banyak menemui turis-turis Indonesia yang berlibur ke Jepang. Ternyata kebijakan memudahkan pengurusan visa dan bebas visa bagi yang mempunyai Elektronik Pasport sangat efektif untuk mendatangkan turis sebanyak-banyaknya.

Kebijakan ini juga telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan membebaskan visa lebih dari 154 negara untuk mengunjungi Indonesia guna mengejar target Pemerintahan Jokowi yaitu mendatangkan wisatawan mancanegara sebanyak 20 juta pada tahun 2019 mendatang.

Kebijakan tersebut sangat efektif jika disertai dengan informasi yang sebanyak-banyaknya tentang lokasi-lokasi pariwisata di Indonesia. Tidak hanya tujuan wisatanya tapi juga tentang Atraksi yang dapat dilakukan di tempat tujuan wisata, informasi yang detail untuk public transport, hotel, restaurant, maupun rental kendaraan juga informasi-informasi lainnya yang diperlukan oleh wisatawan mancanegara. Itu harus disebarkan secara massive dan terus menerus seperti yang dilakukan oleh pemerintah Jepang yang sudah sangat baik mengelola pariwisatanya.

[caption id="attachment_949" align="aligncenter" width="960"] Zahrudin Haris (tengah) sedang menikmati suasana malam di Osaka[/caption]

Semoga saja target pemerintah Indonesia tersebut tercapai sehingga kita bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara tetangga kita seperti Malaysia, Singapura dan Thailand yang sudah lebih maju dan dipenuhi oleh turis asal Indonesia.

Salam dari Osaka.
Selamat Tahun Baru 2017.

Zahrudin Haris, Travel Today

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Maron Mangrove Edupark, Ekowisata yang Lagi Hits di Semarang

Maron Mangrove Edupark Semarang merupakan ekowisata hutan mangrove atau hutan bakau. Destinasi wisata hutan mangrove seluas lima hektare ini terletak di sekitar Pantai Maron Semarang, dengan akses masuk yang sama tak jauh dari Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Menurut Tempo.com , sejak dibuka sampai saat ini, sudah banyak pengunjung yang mendatangi destinasi wisata itu dengan kisaran 50-100 orang/hari, dan bisa 500 orang saat akhir pekan. "Para pengunjung akan mendapatkan pengalaman baru selain berwisata. Mereka bisa belajar bagaimana mengenal, menanam, dan merawat mangrove," kata pengelola Maroon Mangrove Edupark Semarang Rusmadi, Ketua Kelompok Mekartani Lindung. [caption id="attachment_2352" align="aligncenter" width="2304"] Menjelajahi hutan bakau di Maron Mangrove Edupark, Semarang. (foto: assets.kompasiana.com)[/caption] Ia menjelaskan tanaman mangrove sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai pelindung daratan dari ancaman abrasi...

5 Tips Agar Liburan Lebih Seru dan Menyenangkan

Pergi berlibur, tentunya harus membuat hati senang. Indonesia punya banyak tempat lucu. Tapi cara liburannya juga butuh kiat khusus agar menyenangkan. Jika liburan dengan perasaan tidak enak atau gundah akan merusak mood. Padahal kita liburan karena ingin menghilangkan stress dan kepenatan. Untuk itu, kita harus tahu cara liburan supaya seru dan penuh kegembiraan. Dari mulai teman traveling, tempat tujuan, dan segala kebutuhan traveling lainnya dapat menjadi faktor liburan yang menyenangkan. Kali ini, kami akan memberikan beberapa tips untuk liburan yang asyik: 1. Ajak teman yang humoris Tentunya, traveler butuh hiburan yang dapat mengisi di sela-sela kekosongan saat traveling. Contohnya, jika pesawat terkena delay atau bahkan hal-hal yang dapat merusak suasana hati. Mengajak teman yang humoris bisa menjadi solusinya. Mereka bisa menghibur traveler yang sedang bosan atau bahkan emosi sekalipun. Apalagi jika di tempat yang susah dengan jangkauan teknologi, yang paling manjur pasti berca...

Mencicipi Sajian Khas Kue Pia Nias

Selain dodol durian, Nias juga mempunyai makanan khas Kue Pia berjenis kering. Kue Pia Nias memang terbilang berukuran besar dibandingkan dengan Kue Pia lainnya di berbagai daerah. Kue Pia memang tergolong sebagai makanan kuliner asimilasi etnis Tiongkok di Indonesia. Dalam laman buahatiku.com, Kue Pia yang dikenal juga dengan Bakpia itu berasal dari dialek Hokkian dengan nama asli Tou Luk Pia yang artinya kue atau roti yang berisikan daging. Di Indonesia, Kue Pia divariasi dengan sangat beragam berisi kacang hijau, coklat, nanas, duren dan berbagai macam jenis. Kue Pia Nias memang mengundang selera. Ukurannya pun, memang terbilang besar dan berjenis kue pia kering, sehingga terasa crispy dan renyah gurihnya. Kue Pia yang paling terkenal di Nias adalah merk Tanda Setia. Unit usahanya ada di Gunung Sitoli, tepatnya di seputar kawasan jalan Patimura atau jalan Sirao. Biasanya Kue Pia itu berisi gula merah dan tausa. Rasanya memang terbilang manis, seperti umumnya kue pia lainnya. [capt...